Minggu, 19 Desember 2010

Nusantara itu Satu


Ketika seorang pertapa turun dari petilasan yang agung menjadi suatu pertanyaan ada seorang panglima perang yang tangguh melakukan pertapaan selama 40 hari 40 malam, Kenapa? Apa yang telah dia lakukan hanya untuk meminta petunjuk atas pengangkatannya sebagai Mapatih Amangkubumi Keraton Mojopahit. Gajah Mada awalnya menjadi suatu beban tugas yang sangat berat ketika Seorang Ratu dari Bhre Kahuripan memintanya untuk mendampingi dalam menjalankan pemerintahan. Kanjeng Gusti Ratu Tribhuana Wijayatunggadewi memutuskan pengangkatan dikarenakan bahwa panglimanya yang gagah berani tersebut mampu menaklukkan para pemberontak dan berhasil memimpin ribuan prajurit Bhayangkari dalam peperangan. Menumpas pemberontakan Nambi di Blambangan dan menghabiskan sisa-sisa pengikut pemberontakan Ronggo lawe dan menyingkirkan para Dharmaputra Mojopahit yang berkhianat dengan satu sergapan seorang Panglima prajurit Bhayangkari Gajah Mada. Keadaan semakin gelisah bagi Gajah Mada menerima tugas tersebut maka telah di putuskan untuk meminta petunjuk Sang Dewata dalam pertapaannya. Keberadaan saat itu Keraton merupakan salah satu penguasa yang bertahta di tanah Jawa belum ada pembanding dari Kerajaan lain di tanah tersebut. Sehingga, membuat sang panglima semakin gelisah akan keputusan yang harus Dia terima menjadi Mapatih Amungkubumi.

Para Pejabat Keraton dan para Rakryan Keraton Mojopahit menunggu kehadiran Gajah Mada dalam penobatannya menjadi Mapatih Amangkubumi setelah setelah beberapa hari bertapa. Sang Ratu Tribhuana Wijayatunggadewi datang bersama para dayang-dayang untuk mempersiapkan diri di singgasananya dalam penobatan Patih yang ditunggu-tunggu. Beberapa saat kemudian Panglima gagah tersebut datang menunduk di hadapan sang Ratu “ apa yang sebenarnya engkau takutkan wahai Panglimaku?” Sang Ratu bertanya, “ aku Seorang Prajurit setiap hari makananku adalah nyawa, kejujuran, dan pengabdian jadi tidak ada yang aku takutkan”, seraya Gajah Mada menegakkan badan dalam keadaan bersila. “Aku hanya ingin Kerajaan ini memiliki orang-orang tangguh yang berani membela Negaranya serta menghormati dan menjaga kehormatan Leluhurnya” Kata Sang Ratu. “Hamba hanya manusia biasa yang mengabdikan diri kepada Negara” jawab Gajah Mada. “ jika tidak ada pengorbanan lahir batin dan penghormatan terhadap tanah peninggalan Leluhur kita maka Mojopahit tidak akan pernah ada, untuk itu apa keputusanmu sekarang atas tawaranku wahai panglimaku?” Tanya sang Ratu dengan tegas. Keadaan semakin hening semua para pejabat dan para Rakryan menyaksikan Gajah Mada yang sedang duduk bersila menghadap Sang Ratu, ini adalah penentuan akhir bagi Gajah Mada.
Dengan tegap, tiba-tiba kedua kaki berpijak dan mengangkat Keris dari sarungnya Gajah Mada dengan disaksikan sang Ratu Tribhuana Wijayatunggadewi dan para Rakryan serta pejabat Keraton Mojopahit meneriakkan sebuah kalimat sumpahnya.
“Isun Gajah Mada Mapatih Amangkubumi tan ayun Amukti Palapa, Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Serang, TaƱjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”
Semua Rakryan dan pejabat ternganga melihat sebuah kalimat yang cukup menusuk dan memberi api untuk mengabdi pada Nagari Mojopahit, terutama menggugah hati Ratu Tribhuana Wijayatunggadewi. “memang sudah sepantasnya Nagari Mojopahit memilih engkau sebagai Mapatih Amangkubumi, Dewa telah menyaksikan Sumpah yang telah kau ucapkan” seru Sang Ratu. “ Saya hanya menjalankan tugas dari Dewa yang telah memberiku petunjuk agung saat pertapaanku untuk menyatukan Nuswantara, sang Ratu” kata Gajah Mada. “Ketahuilah, bahwa Nuswantara adalah satu, selama kau bisa mengembalikan kejayaan para Nenek Moyang terdahulu dalam satu Nagari Mojopahit, maka Nuswantara akan tetap menjadi satu” kata sang Ratu.

Dan sampai saat ini pun anak cucu Mojopahit meyakini Nuswantara atau Nusantara adalah satu, kecuali yang tidak menyadari hal itu.